Di setiap sesi bimbingan untuk generasi muda, baik itu sesi individual coaching maupun group coaching, aku selalu sisipkan sedikit wejangan (maklum aku kan sudah senior) yang penting dan kekinian.
Minggu lalu aku berbagi topik, Menjadi Diri Sendiri yang Autentik. Poin-poin penting untuk menjadi autentik:
1. Kenali Diri Sendiri: Luangkan waktu untuk merenung. Apa nilai dan minatmu? Apa yang membuatmu bahagia? Mengetahui siapa dirimu adalah langkah awal menuju keaslian (dahulu kala sewaktu aku berkarya di IBM, ada sesi mini-workshop keren: Who Am I ?).
2. Terima Ketidaksempurnaan: Ingat, tidak ada yang sempurna. Terima kekuranganmu dan jadikan itu bagian dari dirimu. Keaslian muncul ketika kita berani menunjukkan sisi rentan, “vulnerability” kita.
3. Hindari Perbandingan: Media sosial seringkali membuat kita membandingkan diri dengan orang lain. Fokuslah pada perjalananmu sendiri dan hargai pencapaianmu, sekecil apa pun itu.
4. Berbicara dengan Jujur: Ekspresikan pendapat dan perasaanmu secara terbuka. Komunikasi yang jujur membantu membangun hubungan yang lebih dalam dan berarti.
5. Kelilingi Diri dengan Orang Positif: Temukan orang-orang yang mendukung dan menerima dirimu apa adanya. Lingkungan yang positif akan mendorong mu untuk menjadi versi terbaik dari dirimu (tak ada waktu untuk orang-orang yang selalu menemukan hal-hal yang “salah” tentang dirimu).
6. Ikuti Kata Hati: Jangan takut untuk mengikuti intuisi dan nalurimu. Terkadang, keputusan terbaik datang dari dalam diri kita sendiri.
7. Belajar dan Berkembang: Keaslian, “being authentic” itu bukan berarti stagnan. Teruslah belajar, eksplorasi, dan berkembang. Jadilah fleksibel, dan terbuka terhadap perubahan (meminjam motto nya ibu Retno Marsudi: Tegas dalam Prinsip, Lentur dalam Cara).
Jadi simpulnya: Menjadi diri sendiri yang autentik adalah perjalanan, bukan tujuan. Dengan mengenali diri sendiri, atau lengkapnya, “Self-discovery”, dan menerima keunikanmu, kamu bisa hidup dengan lebih bahagia, bermakna (dan seperti yang dikatakan Shigehiro Oishi, PhD – psychologically rich life).
Effendi Ibnoe
Lebak Lestari Indah,
Lebaran Sebentar Lagi.