Executive Presence: The Ability to Make People Feel, “This is a Leader I can Trust and Follow.”

ProPeople, Jakarta – Selasa yang lalu saya bertemu dengan tiga sahabat lama, yang juga masih aktif menjadi mentor . Kami santai melahap salmon sashimi, chawan mushi dan miso soup di Midori Pondok Indah Plaza 2.

Keempat orang yang sudah berumur banyak ini, mendiskusikan topik yang mencuat lagi, dan sangat penting.

Bukan! Executive Presence bukan sekadar cara berpakaian, cara bicara, atau tampil percaya diri.

Executive Presence adalah kemampuan seorang executive untuk menciptakan confidence, credibility, clarity, dan influence, terutama dalam situasi yang penting, sulit, atau penuh ketidakpastian.

People may not remember everything you said, but they will remember how they felt about your leadership. 4 C’s of Executive Presence:

1. CONFIDENCE
I know what I am talking about – and I am comfortable with myself.

Ini bukan berarti selalu punya jawaban.

Executive yang confident mampu mengatakan: “I don’t have the answer yet.”; “Let me think about that.”; “I may be wrong.”

Confidence tidak sama dengan arrogance. Confidence justru terlihat ketika seseorang tidak perlu membuktikan dirinya paling pintar di ruangan.

2. CREDIBILITY
You can trust my judgment.

Credibility dibangun dari: Competence + Consistency + Character.

Seorang executive credible: memahami business, bukan hanya functional expertise; berbicara berdasarkan fakta/angka; konsisten antara kata dan tindakan; berani mengambil accountability; tidak melempar kesalahan kepada orang lain.

Your title gives you authority; Your credibility gives you influence.

3. CLARITY
“I understand where we are going – and I can make others understand.”

Executive Presence sangat terlihat ketika seseorang mampu mengubah sesuatu yang kompleks menjadi sederhana.

Dalam meeting BOD/Executive Committee, biasakan: Context -> Key issue -> Recommendation -> Decision needed.

Contoh: “Ini ada 3 masalah. Yang paling kritikal adalah X. Kalau kita tidak selesaikan dalam 3 bulan, impact-nya akan Y. Rekomendasi saya adalah Z, dan apa yang Kami perlukan dari BOD hari ini adalah …..” Ini namanya Executive Communication.

4. COMPOSURE
“I remain calm when the room becomes difficult.”

Ini salah satu elemen paling penting bagi seorang BOD.

Executive Presence paling terlihat bukan ketika semuanya berjalan baik, tetapi ketika target tidak tercapai; terjadi crisis; ⁠ada konflik; mendapat pertanyaan tajam; keputusan mendapat resistensi; atau ketika seseorang menyerang atau menyalahkan.

The higher you go, the more your emosional reaction becomes organizational information.

Jika seorang BOD panik, organisasi ikut panik, people stressed. Jika seorang BOD tetap tenang, organisasi merasa: ”We can handle this.”

7 Executive Behaviors to Practice:

1. Speak less, say More. Jangan merasa harus selalu berbicara. Executive Presence is not about airtime. It is about impact.

2. Don’t answer too quickly. Berikan jeda 2-3 detik sebelum menjawab pertanyaan sulit. Silence can communicate confidence.

3. Start with the conclusion. Jangan membawa audience berkeliling sebelum sampai pada inti. ”My recommendation is …” baru kemudian berikan reasoning.

4. Ask powerful questions. Executive yang kuat tidak selalu memberikan jawaban. Ia bertanya: What are we missing? What happens if we do nothing? What is the real issue behind this issue?

5. Disagree without becoming defensive. Gunakan: “I see it differently, and let me explain why.” Bukan: “No, that’s not correct.”

6. Own the problem. Hindari: “My team failed.” Ganti dengan: “We didn’t get the result we expected. Here is what I am doing about it.”

7. Give credit generously. Executive yang insecure mencari recognition. Executive yang secure gives recognition.

Executive Presence in the Room

Sebelum masuk ruangan meeting, tanyakan tiga hal:

1. What do I want people to THINK? Apa yang harus mereka pahami?

2. What do I want people to FEEL? Apakah Confidence? Urgency? Hope? Trust?

3. What do I want people to DO? Decision? Support? Action?

Jika ketiga hal itu jelas, komunikasi kamu biasanya menjadi jauh lebih powerful.

Self Assessment / Self-Reflection

Ini self assessment / self-reflection yang menarik.

Ask yourself:

When I enter the room…
Apakah orang merasa lebih confident atau lebih anxious?
⁠Apakah saya lebih banyak listening atau talking?
⁠Apakah saya membuat isu menjadi lebih clear atau lebih complicated?
⁠Apakah orang merasa aman untuk disagree with me?

Ketika saya berbeda pendapat, apakah saya menyerang Idea atau person? Apakah saya memberikan cukup credit/recognition kepada orang lain?

⁠Jika saya tidak memiliki jabatan BOD, apakah orang tetap akan mendengarkan, mengikuti, menghormati saya?

”If you remove my title, what remain of my leadership?”

For the Next 30 Days

For the Next 30 Days, pilih 2 Behaviors to:

STOP:

START:

AMPLIFY: