Self-Fulfilling Prophecy Part 2: Bagaimana Memutus The Dangerous Loop?

ProPeople, Jakarta – Pada tulisanku sebelumnya, kita membahas bagaimana sebuah keyakinan dapat memengaruhi perilaku, dan perilaku kemudian menghasilkan kenyataan yang seolah-olah membenarkan keyakinan awal.

Belief → Behavior → Result → Reinforced Belief.

Persoalannya, proses ini bisa menjadi sebuah dangerous loop. Yang lebih berbahaya, setelah loop ini berjalan cukup lama, kita tidak lagi menyadari bahwa kita sendiri ikut menciptakan evidence yang mendukung keyakinan kita.

The Confirmation Trap

Ada satu hal yang membuat dangerous loop semakin kuat: confirmation bias.

Ketika kita sudah percaya bahwa seseorang tidak kompeten, kita cenderung lebih mudah melihat kesalahannya daripada kemajuannya. Ketika kita percaya bahwa sebuah proyek akan gagal, kita lebih cepat melihat hambatannya daripada peluangnya. Ketika kita percaya bahwa kita tidak mampu, setiap kegagalan kecil menjadi “bukti” bahwa keyakinan kita benar.

Akhirnya, kita tidak lagi bertanya, “Apakah keyakinan saya benar?” tetapi hanya mencari, “Apa yang bisa membuktikan bahwa saya benar?” Ini jebakan yang sangat halus.

Bagaimana Memutus The Dangerous Loop?

Kabar baiknya, loop ini bisa diputus. Tetapi kita tidak bisa memutuskannya hanya dengan berkata, “Think positive!” Tidak sesederhana itu.

Kita perlu mengubah cara berpikir, cara bertindak, dan evidence yang kita kumpulkan.

1. Separate Belief from Fact

Langkah pertama adalah menyadari bahwa apa yang kita pikirkan belum tentu fakta. Ketika muncul pikiran, “Saya tidak mampu,” berhenti sejenak dan tanyakan: “Apa faktanya?” Bukan “Apa yang saya rasakan?”, tetapi: apa evidence yang benar-benar menunjukkan bahwa saya tidak mampu?

Sering kali kita menemukan bahwa yang kita miliki bukan fakta, melainkan interpretation. Ubahlah “Saya tidak bisa” menjadi: “Saya belum bisa.”

2. Challenge The Assumption

Tanyakan pada diri sendiri: “What if my assumption is wrong?”

Misalnya: “Saya tidak cocok menjadi leader.” Coba tantang: “Apakah saya benar-benar tidak punya kemampuan leadership, atau saya belum pernah mendapatkan kesempatan untuk memimpin?”

“Saya sudah terlambat untuk belajar sesuatu yang baru.” Tantang: “Terlambat menurut siapa?”

3. Change the Behavior First

Kadang kita menunggu confidence datang terlebih dahulu baru berani bertindak. Padahal, sering kali justru sebaliknya. Action can create confidence.

Jika takut melakukan presentasi, lakukan presentasi kecil. Jika takut mengambil keputusan, mulai dengan keputusan yang risikonya terkendali. Jika merasa tidak mampu memimpin, ambil satu stretch assignment.

Jadi, “Saya mencoba dulu, kemudian confidence akan tumbuh dari pengalaman.”

4. Create Small Wins

Salah satu cara paling efektif memutus negative loop adalah menciptakan small wins. Tidak perlu langsung melakukan sesuatu yang besar. Seseorang yang merasa tidak mampu berbicara di depan umum tidak harus langsung menjadi keynote speaker.

Setiap keberhasilan kecil menciptakan evidence baru: “Ternyata saya bisa.”

Evidence baru menghasilkan belief baru.

Small Win → New Evidence → New Belief → New Behavior → Better Result.

Maka, loop yang negatif mulai berubah menjadi positive loop.

Kuncinya: Jangan terlalu cepat membuat prediction. Ciptakan possibility.