Psychologically Rich Life

Pembicaraan di pertemuan para psikolog dari berbagai disiplin ilmu psikologi masih disekitar buku yang aku usulkan dibahas yaitu Life in Three Dimensions, karya Shigehiro Oishi, PhD.

Psychologically rich life atau kehidupan yang kaya secara psikologis, pengertian nya adalah pengalaman hidup yang memiliki kedalaman emosional dan intelektual.

Psychologically Rich Life menggambarkan kehidupan yang penuh dengan variasi, kompleksitas, dan pengalaman yang memperkaya pemahaman seseorang tentang diri sendiri dan dunia di sekitarnya.

Sebetulnya gambaran kehidupan yang kaya secara psikologis itu apa saja?

1. Pengalaman Beragam: Menghadapi berbagai situasi, tantangan, dan pengalaman yang memperluas perspektif (contoh: pengalaman hidup teman baikku from Magetan to Paris, dan kemudian ke banyak negara dan benua; aku sendiri from Sampang, Madura to Leuven, Belgium dan kemudian ke negara-negara Asean).

2. Refleksi: Kesempatan untuk merenungkan pengalaman dan pembelajaran yang kita dapat lakukan (Periodic Self-Reflection, seperti menulis Diary tapi terstruktur, misalnya: apa saja keberhasilan yang kuraih minggu lalu, apa kegagalan yang kualami).

3. Emosi yang dalam: Merasakan berbagai emosi, baik positif maupun negatif, dan belajar dari pengalaman itu (emosi positif, riang gembira sewaktu mendapatkan pengakuan HR Excellence; namun juga emosi negatif, sedih, dan kecewa berat, karena tidak diterima sewaktu melamar menjadi anggota Lembaga Sensor Film).

4. Hubungan yang bermakna: Membangun hubungan yang dalam dan bermakna dengan orang lain (the three most important things in life: Love, Family, Friends).

5. Kreativitas dan Ekspresi Diri: Melibatkan diri dalam aktivitas kreatif yang memungkinkan kita mengekspresikan diri (menulis artikel atau buku; ber-karaoke, dan sempat selama sepuluh tahun moge-riding).

Secara keseluruhan, kehidupan yang kaya secara psikologis dianggap penting untuk Pertumbuhan Pribadi dan Kesejahteraan (Personal Growth and Well-being).

Have you had a psychologically rich life so far?

Effendi Ibnoe
Lebak Lestari Indah,
Di paruh kedua bulan Ramadhan