Dok/Pexels

Mental Health & Well-being

ProPeople Indonesia – Pertemuan enam langit … eh maksudku enam psikolog dari berbagai disiplin ilmu psikologi, terus berlanjut. Kali ini di Teras Dharmawangsa, resto yang termasuk Group Plataran ini is my fave. Kami diskusi seru tentang Mental Health and Wellbeing di tempat kerja. Topik yang akhir-akhir ini semakin diperhatikan dan membahana.

Seiring dengan perubahan besar di dunia kerja – mulai dari kemajuan teknologi, tuntutan performa tinggi, hingga pergeseran budaya kerja pasca – pandemi; Kesehatan mental karyawan kini diakui sebagai elemen kunci dalam keberhasilan organisasi.

Menurut survei global, lebih dari 60% pekerja melaporkan mengalami peningkatan stress terkait pekerjaan. Faktor-faktor seperti jam kerja yang panjang, target yang ambisius, dan minimnya waktu istirahat telah menciptakan lingkungan kerja yang rentan terhadap burnout.

Sayangnya masih banyak perusahaan yang memandang isu ini sebagai masalah pribadi, bukan tanggung jawab korporasi. Namun tren ini mulai berubah. Korporasi terdepan saat ini menyadari bahwa menjaga kesehatan mental karyawan sama pentingnya dengan menjaga produktivitas.

Sambil menyantap mie bebek Teras kesukaanku, aku cerita ke teman-teman psikolog ini…

Sewaktu aku menjadi Juri HR Excellence Award (SWA-FEB) 2024 beberapa bulan lalu, beberapa langkah yang diambil oleh perusahaan-perusahaan hebat peserta Ajang ini, misalnya:

1. Menerapkan Kebijakan Kerja Fleksibel:

Dengan model kerja hybrid atau remote, karyawan memiliki lebih banyak kendali atas waktu dan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi. Fleksibilitas ini ternyata membantu mengurangi tekanan berlebihan.

2. Menyediakan Akses ke Program Kesehatan Mental:

Banyak dari perusahaan peserta Ajang HR Excellence itu yang sudah maju, dengan menyediakan layanan konseling, sesi mindfulness, hingga program terapi online untuk mendukung karyawan yang membutuhkan bantuan.

3. Menciptakan Budaya Kerja yang Inklusif dan Peduli:

Membangun lingkungan kerja yang mendukung di mana karyawan merasa aman untuk berbicara tentang masalah mental mereka, tanpa takut akan stigma atau diskriminasi. Ini merupakan langkah penting.

4. Pelatihan untuk Manager:

Pemimpin yang tanggap terhadap isu kesejahteraan mental dapat membantu mendeteksi masalah lebih dini dan memberi dukungan yang tepat kepada team mereka.

Kami para psikolog Industri & Organisasi, Klinis, Sosial berkesimpulan: Pada akhirnya, perusahaan yang peduli terhadap kesehatan mental karyawan akan mendapatkan manfaat jangka panjang. Penurunan “resignation”, peningkatan loyalitas, serta kreativitas yang lebih tinggi adalah hasil langsung dari karyawan yang merasa didukung dan dihargai.

Kesehatan mental bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis bagi setiap korporasi yang ingin tetap kompetitif dan relevan di dunia kerja modern ini.

Salam “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”

Effendi Ibnoe
15 Oktober 2024