Pertemuan para psikolog dari berbagai disiplin ilmu psikologi dimulai awal tahun.
Aku minta topik pembahasan kali ini, Green HR, Sustainability, ESG, Circular Economy dan sejenisnya. Ini kok seperti WEF di Davos :).
Btw, World Economic Forum di Davos, Switzerland, 20-24 Januari nanti, temanya: Collaboration for the Intelligent Age. Prioritas topik-topik akan sekitar Rebuilding trust, Reimagining growth, dan Safeguarding the planet.
Kembali ke diskusi kami di Urban Wagyu, Citos sore itu – HR Hijau itu kan pendekatan dalam manajemen sumber daya manusia yang fokus pada praktik-praktik yang mendukung keberlanjutan atau sustainability lingkungan.
Di tengah kesadaran global tentang pentingnya menjaga bumi, banyak korporasi mulai mengadopsi prinsip-prinsip ramah lingkungan dalam kebijakan dan praktik HR mereka. Ini disebut Green HR.
“Jadi tepatnya apa peran HR dalam Sustainability?” tanya Sandra, psikolog cantik dan cendekia.
Kami comment satu persatu, bercerita mengenai beberapa perusahaan client yang sudah menerapkan, di mana HR nya sudah berperan di area:
1. Rekrutmen dan Seleksi: HR bisa memulai dengan menarik kandidat yang memiliki kesadaran lingkungan. Dengan mencari calon-calon yang peduli terhadap isu-isu berkelanjutan, perusahaan bisa membangun tim yang sejalan dengan nilai-nilai hijau.
2. Pelatihan dan Pengembangan: HR berperan dalam memberikan pelatihan yang meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan karyawan. Misalnya pelatihan tentang pengurangan limbah, atau minimum waste, efisiensi energi, atau praktik bisnis berkelanjutan.
3. Kebijakan dan Prosedur: HR dapat merumuskan kebijakan yang mendukung keberlanjutan, seperti kebijakan kerja jarak jauh untuk mengurangi jejak karbon, atau program insentif bagi karyawan yang menggunakan transportasi ramah lingkungan.
4. Keterlibatan Karyawan: Melibatkan karyawan dalam inisiatif keberlanjutan, seperti program daur ulang atau penanaman pohon, dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan.
5. Evaluasi Kinerja: HR dapat memasukkan indikator keberlanjutan dalam penilaian kinerja karyawan. Misalnya, memberikan penghargaan kepada team atau individu yang berkontribusi banyak pada inisiatif hijau perusahaan.
6. Kesejahteraan Karyawan – Employee Wellbeing: Menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan ramah lingkungan juga bagian dari tanggung jawab HR. Ruang kerja yang baik, penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan, dan promosi gaya hidup sehat berkontribusi terhadap berkelanjutan.
Dengan mengintegrasikan praktik Green HR, perusahaan tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan citra dan brand, menarik talenta terbaik, dan meningkatkan keterlekatan, engagement, ataupun kepuasan karyawan.
Di era di mana konsumen, customers semakin peduli terhadap isu lingkungan, memiliki reputasi sebagai perusahaan yang berkelanjutan bisa menjadi keunggulan kompetitif yang signifikan.
Sebelum berpisah, ke enam psikolog sepakat untuk menyimpulkan pertemuan UW Citos:
Green HR bukan hanya slogan atau tren, tetapi suatu kebutuhan untuk masa depan yang lebih baik.
Peran HR dalam mendorong keberlanjutan sangat krusial dan dapat menciptakan dampak positif bagi perusahaan, karyawan, dan lingkungan.
Dengan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, kita bisa bersama-sama menciptakan dunia yang lebih hijau.
Effendi Ibnoe
Lebak Lestari Indah,
13 Januari 2024