Pembicaraan santai sore itu, High Tea conversation, antara saya dan Putra, salah satu mentee saya, membahas topik penting.
Dimulai dengan pertanyaan Putra tentang apa itu Leadership Branding apa bedanya dengan Personal Branding yang para professionals banyak sudah tahu.
Anyway, Personal Branding kan sebetulnya proses membangun citra dan reputasi seseorang berdasarkan keahlian, nilai, dan kepribadian mereka.
Pendeknya, bagaimana seseorang ingin dipersepsikan oleh orang lain.
Fokusnya lebih pada individu itu sendiri, termasuk bagaimana mereka menampilkan diri di media sosial, dalam jaringan profesional, dan dalam interaksi sehari-hari.
Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan reputasi pribadi, menarik peluang karir, dan membangun hubungan yang bermanfaat.
Strategi pemasaran diri ini meliputi penampilan, komunikasi, keahlian, dan nilai-nilai pribadi. Zaman dulu saya pernah berkiprah di IBM, yang dikenal dengan nilai-nilai utama atau IBM values: Respect for the Individual; ini ditanamkan pada semua IBM’ers, dalam tutur kata, tingkah laku, dalam berinteraksi dengan siapapun.
Ini menjadi suatu habit, sehingga dalam suatu conference, saya tak kan lupa, seseorang dari eksekutif, teman lama dari perusahaan lain berkata “Effendi, kamu itu IBM banget ya”; yang tentunya memberikan perasaan bangga dan menyenangkan bagi saya sendiri dan IBM.
“Jadi, kalau Leadership Branding, yang bagaimana itu mas Eff?” tanya Putra sambil melahap sate ponorogo di Sate Khas Senayan, Citos.
Sambil menikmati sate buntel, saya jelaskan seperti ini:
Leadership Branding juga proses membangun citra dan reputasi seorang pemimpin atau organisasi, sebagai pemimpin di industri tertentu. Dimana lebih menekankan pada visi dan kemampuan untuk memimpin orang lain.
Fokusnya lebih ke bagaimana pemimpin mempengaruhi dan menginspirasi orang lain, dan bagaimana menciptakan dan mempertahankan budaya organisasi.
Tujuannya untuk membangun pengaruh, memotivasi team, dan menciptakan pengikut yang setia, serta meningkatkan kredibilitas organisasi.
Contoh yang tak pernah terlupakan adalah sahabat saya mendiang Handry Satriago. Seorang CEO (GE Indonesia) selama beberapa tahun, yang dikenal karena kepemimpinannya yang inspiratif dan keberhasilannya dalam memimpin team, menuju pencapaian tujuan GE Indonesia waktu itu.
Saya ingat waktu itu, seraya bercanda dengan Handry, “Handry, korporasi atau business schools mana di Indonesia ini yang belum pernah mengundang kamu untuk leadership sharing session?”
Leadership Branding Handry Satriago sudah demikian tingginya.
Sebelum kami mengakhiri perjumpaan sore itu saya sampaikan ke Putra:
Secara ringkas, personal branding lebih berfokus pada individu dan reputasi mereka; sedangkan leadership branding lebih menekankan pada kemampuan untuk memimpin dan menginspirasi orang lain dalam konteks organisasi.
Keduanya penting.
Effendi Ibnoe
JakSel, Sabtu, 25 Januari 2025