Dok/ProPeopleIndonesia

Indonesia Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%, Komisaris ProPeople Indonesia: Ubah Paradigma Pembangunan Nasional dari Natural Resource Based ke Human Resource Based

ProPeople, Jakarta Presiden Indonesia Prabowo Subianto, menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% dalam lima tahun ke depan. Target ambisius ini mencerminkan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang meskipun masih ada sejumlah hambatan yang harus dihadapi, termasuk masalah utang, ketidakpastian geopolitik, serta kebutuhan inovasi dalam kebijakan ekonomi.

Dalam menghadapi tantangan ini, pakar ekonomi dan pembangunan, sekaligus Komisaris Lembaga Pelatihan ProPeople Indonesia, Dr. Silverius “Sonny” Y. Soeharso, SE, MM atau yang akrab disapa Dr. Sonny menyebutkan jika optimisme saja belumlah cukup. Ada banyak langkah krusial yang harus diambil untuk mencapai target tersebut, salah satunya dengan memperhatikan kesesuaian prioritas program dengan postur anggaran yang ada.

“Prioritas program dan postur anggaran itu harus sesuai, sehingga diperlukan juga politik anggaran yang tepat. Apabila penanganan sektor ekonomi nasional hanya biasa saja pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5%. Oleh karena itu, perlu kebijakan, strategi dan program kerja yang tepat agar kita mampu merealisasikan pertumbuhan ekonomi 7%-8%,” ujar Dr. Sonny saat mengikuti diskusi daring bertema Prospek Perekonomian Indonesia Tahun 2025 yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu 6 November 2024.

Dr. Sonny menambahkan, pembangunan suatu negara juga tidak bisa terus bergantung pada faktor-faktor fisik atau sumber daya alam (SDA) semata. Ia menyarankan pemerintah mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja yang dibutuhkan pasar global, sebagai bagian upaya untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Perubahan paradigma dari pembangunan berbasis SDA ke pembangunan berbasis human capital adalah langkah krusial bagi Indonesia untuk mewujudkan visi menjadi negara maju. Tidak ada yang lebih berharga daripada investasi pada manusia yang terampil dan berpengetahuan.” tambah Dr. Sonny.

Secara tradisional, banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, mengandalkan kekayaan SDA sebagai motor utama pembangunan ekonomi. SDA, seperti hasil pertanian, energi, mineral, dan keanekaragaman hayati, memang menjadi sumber daya penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, ketergantungan pada SDA memiliki keterbatasan. Pertama, SDA bersifat terbatas dan semakin lama semakin menipis. Kedua, banyak negara yang memiliki SDA melimpah tetapi tetap kesulitan dalam mengelola dan memanfaatkannya dengan baik. Fenomena ini sering disebut sebagai “resource curse” atau kutukan sumber daya.

Selain itu, pembangunan yang bergantung pada SDA juga berisiko menghadapi fluktuasi harga global yang tidak dapat dikendalikan. Ketika harga komoditas dunia turun, ekonomi negara yang bergantung pada SDA akan mengalami penurunan tajam. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk merubah paradigma pembangunan, dengan menjadikan pengetahuan dan keterampilan sebagai pusat utama yang mendorong kemajuan.

“Sumber daya alam suatu negara bisa habis, namun jika kita membangun manusia dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, potensi tersebut bisa terus berkembang dan menciptakan inovasi. Ini adalah kunci untuk menghadapi tantangan di era globalisasi yang semakin kompetitif,” tambah Dr. Sonny.

Dr. Sonny menekankan, keterampilan yang dibutuhkan bukan hanya yang bersifat teknis, tetapi juga keterampilan soft skills seperti kreativitas, kepemimpinan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi dalam dunia yang terus berubah. Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan tidak bisa hanya sebatas mengajarkan keterampilan dasar, tetapi juga perlu menciptakan mindset yang adaptif terhadap perubahan.

“Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam bentuk populasi muda yang besar. Namun, potensi tersebut hanya akan terwujud jika kita mampu memberikan pendidikan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar. Ini bukan hanya masalah kuantitas, tapi juga kualitas dari SDM yang kita miliki,” pungkas Dr. Sonny.