Happiness, Meaningfulness and Psychologically Rich Life

Aku sering berdiskusi dan menulis tentang ketiga hal ini, sampai teman-teman baikku pun berkomentar:

“Eff, menurutku kita itu tidak usah terlalu “ngoyo” atau berusaha keras untuk mendapatkan kebahagiaan.”

“biarkan kehidupan itu mengalir, enjoy saja.”

“Eff, kebahagiaan itu dari dalam diri; if we choose to be happy, we will be happy.”

“Eff, di negeri tercinta ini, kita memerlukan orang-orang yang ‘sudah selesai dengan dirinya sendiri’, untuk bisa menjadi pemimpin yang mumpuni, berintegritas tinggi, dan tidak korupsi.”

Terkadang aku koq agak ngeri ya, mendengar kata-kata “sudah selesai dengan dirinya sendiri”, kan orangnya masih hidup? Anyway…

Selanjutnya banyak psikolog dan filosof yang kemudian lebih mementingkan *Meaningfulness* daripada Happiness sebagai tujuan akhir hidup ini. Kebermaknaan, sepertinya lebih mengedepankan unsur spiritual.

Sedangkan Professor of Psychology, Shigero Oishi, PhD, yang buku terkininya aku suka sekali, Life in Three Dimensions mengedepankan dimensi ke-tiga dalam kehidupan, yaitu Psychologically Rich Life.

Sabtu kemarin, siang hari saya ngabuburit, berdialogue dengan teman-teman ku yang psikolog, maupun ahli filsafat; kami bertukar-pandang tentang tiga hal itu, terutama, sebetulnya apa sih elements of Happiness itu? Ternyata meskipun kebahagiaan itu tema yang luas dan kompleks, tetapi 10 elemen utama yang sering diidentifikasi sebagai penyumbang kebahagiaan adalah:

1. Hubungan Sosial: Koneksi yang kuat dengan keluarga, teman, dan komunitas dapat meningkatkan rasa kebahagiaan. Interaksi sosial yang positif menyediakan dukungan emosional dan “sense of belonging”.

2. ⁠Kesehatan Fisik: Kesehatan yang baik sering kali berkaitan dengan kebahagiaan. Olahraga, pola makan seimbang, dan tidur yang cukup dapat meningkatkan energi dan suasana hati yang positif.

3. ⁠Kesehatan Mental: Mengelola stress, kecemasan, dan depresi sangat penting. Praktik mindfulness, meditasi, atau terapi dapat membantu memperkuat kesehatan mental.

4. ⁠Tujuan dan Makna: Memiliki tujuan dalam hidup dan merasa bahwa hidup kita memiliki makna dapat meningkatkan rasa kepuasan. Ini bisa berasal dari pekerjaan, hobi, atau kontribusi kepada masyarakat.

5. ⁠Pengalaman dan Kenangan: Pengalaman positif, seperti perjalanan atau kegiatan baru, sering kali lebih memuaskan daripada material. Kenangan baik memberikan kebahagiaan jangka panjang.

6. ⁠Syukur: Menghargai apa yang kita miliki dan bersyukur atas hal-hal kecil dapat meningkatkan kebahagiaan . Praktik bersyukur dapat membantu mengalihkan fokus dari ketidakpuasan.

7. ⁠Kemandirian dan Kebebasan: Merasa memiliki kendali atas hidup kita dan kemampuan untuk membuat pilihan sendiri dapat meningkatkan rasa puas dan bahagia.

8. ⁠Kreativitas dan Ekspresi Diri: Menggunakan kreativitas dalam bentuk seni, tulisan, atau aktivitas lain dapat menjadi saluran untuk mengekspresikan diri dan menemukan kebahagiaan.

9. ⁠Aktivitas yang Memuaskan: Terlibat dalam aktivitas yang kita nikmati, baik itu olahraga, seni, atau hobi dapat meningkatkan suasana hati yang positif, serta memberikan rasa pencapaian, sense of achievement.

10. ⁠Kedermawanan: Membantu orang lain dan terlibat dalam kegiatan sosial dapat meningkatkan perasaan positif dan kebahagiaan kita.

Setiap orang dapat memiliki kombinasi elemen yang berbeda, yang berkontribusi pada kebahagiaan mereka.

Menemukan apa yang  paling berarti bagi diri sendiri adalah langkah penting dalam “mengejar” kebahagiaan.

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Oleh Effendi Ibnoe
Lebak Lestari Indah,

“Happy Ruby Tuesday,” 25 Maret 2025