Bagaimana Kita Bisa Berdamai dengan Diri Sendiri?

“Assalamu’ alaikum dan apa kabar Umi sayank?” sebuah pesan dalam bentuk WA muncul di HP ku. Setelah kubaca, ternyata dari Devi yang berhidung bangir dan berkulit bersih, sohib kecilku waktu SD lebih dari 60 tahun yang lalu nun jauh disana di kota Padang.

“Kabar baik & semoga Devi juga, ya?” balasku cepat.

“Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin. Mau konsultasi, boleh Um?” lanjut Devi.

Tiba-tiba telpon masuk dari teman organisasi keagamaan untuk menanyakan persiapan pelatihan yang kami gagas DUA minggu lagi.

Belum selesai, seorang klien menanyakan persiapan FGD yang akan digelar besok.

Baru selesai masalah FGD, cucu kesayangan datang untuk menginap di rumahku karena Mamanya sedang ada bisnis di Bali.

Terputuslah komunikasi dengan Devi.

Keesokan harinya setelah meeting selesai dan pulang belanja dari supermarket, aku segera menghubungi Devi.

“Assalamu’ alaikum, Devi sayank, mohon maaf dari kemarin meeting terus. Silahkan klo mo konsultasi, ya?”

“Mau tanya, berdamai dengan diri sendiri bagaimana caranya, Um?” tulis Devi tak sabar.

“Wah, pertanyaan yang baik, unik dan menarik, nich?” balasku.

“Ini sekedar saran berdasarkan pengalamanku dan observasiku pada teman-teman yang memiliki masalah yang sama,” lanjutku lagi sambil mengirimkan saranku.

Bagaimana Kita bisa Berdamai dengan Diri Sendiri?

Ada Cara Jitu Berdamai dengan Diri Sendiri untuk Menjaga Kesehatan Mental.

Setiap manusia dalam menjalani hidup, tentu mempunyai suatu tujuan, visi, misi, strategi dan nilai-nilai yang diyakini baik dan benar sehingga diharapkan dapat mewujudkan visinya dan mencapai tujuannya yang akhirnya akan membuatnya merasa bahagia.

Namun tidak semua keinginan itu terwujud karena berbagai faktor. Nah, ketika kita tidak dapat mencapai hal-hal yang kita inginkan kadang-kadang kita kecewa dan marah dengan diri sendiri yang kalau dibiarkan akan merusak kesehatan mental kita. Untuk itu kita harus berusaha mengatasinya dengan cara:

1.Ikhlas kepada Diri Sendiri.
Tidak mudah namun bila punya niat dan kesungguhan hati, bisa buanget termasuk memaafkan kesalahan diri sendiri seberapapun besarnya.

2.Lakukan Meditasi atau Aktivitas Spiritual.
Bisa dengan yoga, zikir, puasa sunnah, mengaji atau sholat tahajud.

3.Lupakan Sejenak Kegagalan.
Amat sangat sulit tapi bisa diupayakan dan kita harus bisa menerima kegagalan, bila perlu kita coba lagi sampai titik darah penghabisan dan berhasil. Kalau sudah 3 kali tetap gagal, berarti kita tidak cocok dengan pilihan tersebut dan kita coba alternatif lain/Plan B yang lebih achievable.

4.Lakukan Kegiatan Kesenian.
Bisa ikut karaoke, line dance, angklung, main piano, gitar, melukis, memasak, menjahit, menata rumah dan lain sebagainya sesuai minat kita. Kegiatan ini bisa bersama keluarga, sahabat, teman baru atau sendiri. Siapa takut?

5.Buat Suatu Rencana Kehidupan Kedepan.
Libatkan suami/pasangan, anak, mantu dan cucu bila memungkinkan namun bila tidak, kita buat untuk diri sendiri, misalnya: kuliah lagi, memulai bisnis, jalan-jalan ke suatu tempat yang baru, menabung, memulai gaya hidup baru yang lebih sehat, diet atau lebih religius bahkan sampai menyiapkan Rumah Masa Depan (Makam untuk kita) dan lain-lain sesuai passion kita.

“Selamat mencoba & semoga kita bisa berdamai dengan diri sendiri,” kuakhiri pesanku pada Devi karena sudah ada PR lain yang menunggu.

“Terimakasih banyak Um sahabat kecilku yang baik hati,” balas Devi cepat yang hanya bisa kujawab dengan gambar kumpulan mawar merah ukuran besar berbentuk CINTA dan berharap Devi mampu menemukan insight.

Dra. Umi Mahmudah Hani, M.Psi., Psikolog