Self-Fulfilling Prophecy: Ketika Keyakinan Kita Justru Menciptakan Kenyataan

ProPeople, Jakarta – Pernahkah kita merasa, “Saya memang tidak bisa melakukan ini”? Atau, “Saya sudah sangat terlambat untuk belajar main piano? Atau seorang manajer berkata tentang anak buahnya, “Dia memang tidak punya potensi menjadi pemimpin.”

Menariknya, keyakinan seperti itu terkadang bukan sekadar mencerminkan kenyataan – tetapi justru ikut menciptakan kenyataan. Inilah yang disebut Self-Fulfilling Prophecy.

Sederhananya, self-fulfilling prophecy adalah fenomena ketika sebuah keyakinan atau ekspektasi terhadap sesuatu memengaruhi perilaku kita sedemikian rupa sehingga pada akhirnya menghasilkan kondisi yang sesuai dengan keyakinan awal tersebut.

Dengan kata lain: What we believe can influence how we behave, and how we behave can create the reality we believe in.

Contoh riil yang beberapa kali terjadi sewaktu sesi konseling dengan klien: Seorang klien mendapatkan tugas baru, ia berpikir: “Saya tidak akan mampu menyelesaikan ini.”

Karena keyakinan tersebut, ia menjadi ragu-ragu. Ia tidak berani mencoba cara baru; ia menunda pekerjaan; ia tidak meminta bantuan; ia mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Akhirnya, tugas tersebut memang tidak selesai dengan baik. Kemudian ia berkata: “Benar kan, saya memang tidak mampu.”

Keyakinan awalnya telah memengaruhi perilakunya, dan perilaku tersebut ikut menciptakan hasil yang memperkuat keyakinan awal.

Belief -> Behavior -> Result -> Reinforced Belief. Ini lingkaran self-fulfilling prophecy.

Contoh nyata kedua: Fenomena di pasar saham

Suatu waktu muncul rumor: “Harga saham perusahaan X akan turun.”

Sebagian investor mulai percaya. Karena percaya harga akan turun, mereka menjual sahamnya. Ketika semakin banyak orang melakukan hal yang sama, permintaan turun dan tekanan jual meningkat. Akibatnya, harga saham benar-benar turun.

Kemudian orang berkata: “Nah, benar kan. Saham X memang akan turun.”

Padahal, sebagian dari penurunan tersebut justru terjadi karena orang percaya bahwa harga akan turun dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut (jual saja sebelum merugi).

Ekspektasi manusia kadang dapat menjadi part of the mechanism that creates the outcome.

Contoh 3: Dalam leadership: “Dia memang bukan high potential”

Ini mungkin jauh lebih berbahaya dalam organisasi.

Bayangkan seorang atasan sudah memiliki persepsi: “Dia orangnya biasa-biasa saja. Saya rasa dia tidak punya leadership potential.”

Tanpa disadari, atasan mungkin kemudian memberikan tugas yang biasa-biasa saja; tidak mengikutsertakannya dalam strategic project; tidak memberikan exposure kepada senior leaders; jarang memberikan feedback; tidak menginvestasikan coaching dan development;
tidak memberinya kesempatan untuk mengambil keputusan besar.

Lalu dua tahun kemudian, performanya memang terlihat biasa saja.

Atasan berkata: “Saya sudah bilang dari awal. Dia memang bukan high potential.”

Yang terjadi adalah:

Low expectation -> Low opportunity -> Low exposure -> Low confidence -> Low performance -> Low potential perceived.

Ekspektasi awal akhirnya menjadi kenyataan.

Contoh 4: Sebaliknya: Pygmalion Effect

Menariknya, fenomena ini juga dapat bekerja secara positif.

Jika seorang leader percaya, “Saya melihat potensi besar dalam diri Anda.”

Maka ia mungkin akan memberikan challenging assignment; memberikan coaching; memberikan kesempatan tampil; memberikan feedback; mempercayakan tanggung jawab lebih besar; memberikan exposure ke senior leaders.

Maka orang tersebut kemudian berpikir, “Berarti atasan saya percaya kepada saya. Mungkin saya memang mampu.”

Confidence meningkat.
Effort meningkat.
Performance meningkat.

Dan akhirnya potensi yang sebelumnya hanya berupa kemungkinan mulai menjadi kenyataan.

Inilah yang sering dikaitkan dengan Pygmalion Effect: High expectation can lead to higher performance.

(Bagian kedua akan membahas: The Dangerous Loop; Bagaimana memutus self-fulfilling prophecy?)

Effendi Ibnoe
Jumat sore di JakSel
28 Agustus 2026