Catching People Doing Things Right: Menuju Psychological Safety

Oleh: Effendi Ibnoe, MBA., Psikolog

Di sela-sela menghadiri HRCON 2026 by HRA Bali, Sabtu 15 Agustus lalu, aku terpikir untuk berbagi, menulis tentang fenomena penting akhir-akhir ini, Psychological Safety.

Psychological Safety tidak dibangun hanya Dengan mengatakan “Silahkan Speak Up” atau “Bicaralah, ungkapkan demi kebaikan.”

Ia dibangun ketika orang mengalami, bahwa ketika mereka speak up, kontribusi mereka benar-benar didengar, dihargai, dan tidak serta-merta “dihukum.”

Dalam konteks institusi tertentu yang biasanya terdapat hierarki yang kuat, power distance, birokrasi, concern terhadap risiko, dan kecenderungan untuk ingin “aman” secara struktural maupun politis. Akibatnya, orang bisa saja memiliki pendapat berbeda tetapi memilih diam.

Dari Catch People Doing Things Right menuju Psychological Safety.

Bayangkan seorang Manager dalam rapat Direksi menyampaikan, “saya melihat ada risiko dalam rencana ini yang mungkin belum kita perhitungkan.”

Ada dua kemungkinan respons pimpinan.

Respond A: “Kita sudah membahas itu. Jangan terlalu kuatir. Lanjut.” Maka pesan psikologis yang diterima organisasi: ”lebih aman diam.”

Respond B: “Terima kasih sudah mengangkat itu. Saya ingin kita lihat lebih jauh. Apa risikonya menurutmu?” Maka pesannya: ”Di sini, menyampaikan concern adalah sesuatu yang dihargai.”

Inilah Catch People Doing Things Right dalam konteks psychological safety.

Pemimpin menangkap perilaku yang benar secara psikologis: keberanian menyampaikan concern, memberikan ide, mengakui kesalahan, meminta bantuan, bertanya, atau mempertanyakan keputusan.

Dan kemudian perilaku itu diperkuat.

5 Perilaku yang Perlu “Ditangkap” oleh Pemimpin – saran kami, beberapa psikolog industri & organisasi:

1. Catch People Speaking Up: Ketika seseorang berani menyampaikan pendapat berbeda: “Thank you for challenging the idea.” Ini bukan berarti pemimpin harus selalu menerima pendapatnya. Challenge boleh ditolak; Orangnya jangan dipermalukan. Ini perbedaan yang sangat penting.

2. ⁠Catch People Admitting Mistakes: Dalam organisasi yang sangat hierarchical, mengakui kesalahan bisa terasa berbahaya. Ketika seorang manager berkata: “Pak, ini keputusan saya, dan ternyata asumsi saya salah.”

Pemimpin dapat mengatakan: “Thank you for owning it. Sekarang mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari”. Ini menciptakan learning culture.

Pesannya: Mengakui kesalahan tidak otomatis berarti kehilangan muka. Tentu saja, ini bukan berarti kesalahan tidak memiliki konsekuensi. Yang ingin dibangun adalah honest accountability, bukan no accountability.

3. Catch People Asking for Help: Dalam budaya tertentu, meminta bantuan sering dianggap tanda kelemahan. Padahal dalam organisasi yang kompleks, kemampuan mengatakan “Saya belum tahu”, atau “Saya membutuhkan bantuan.” Justru merupakan bentuk maturity.

Pemimpin dapat merespons: “Good that you raised it early”. Kalimat sederhana ini sangat powerful. Karena kita mengajarkan: ”Raise the issue early, not hide it until it becomes a crisis.”

4. Catch People Challenging the Status Quo: Organisasi yang sedang bertransformasi sangat membutuhkan orang yang berani mengatakan: “Mengapa proses ini harus selalu dilakukan seperti ini?” Jika setiap challenge dianggap sebagai pembangkangan, transformasi akan berjalan lambat.

Pemimpin dapat mengatakan: “Saya belum tentu setuju, tetapi saya menghargai kamu mempertanyakan cara lama. Mari kita lihat datanya.” Ini menciptakan constructive dissent.

Constructive dissent adalah salah satu bentuk psychological safety yang sangat penting dalam organisasi yang sedang bertransformasi.

5. Catch People Supporting Others: Psychological safety bukan hanya hubungan leader-follower. Ia juga dibangun oleh peer behavior.

Ketika seorang senior mengatakan: “Saya ingin mendengar pendapat orang-orang muda di ruangan ini.” Pemimpin sedang memperkuat budaya inclusion, humility, collaboration, dan recognition.

Psychological Safety begins when people knows that they will not be punished for speaking up – and grows when leaders actively catch, recognize, and reinforce people who have the courage to do the right thing.

Merdeka!